Tanaman Obat Untuk Penyembuh HIV

Akar geranium melumpuhkan HIV sebelum beraksi.

Sejak ditemukan , kini “umurnya” masih terbilang muda, 32 tahun. Namun, ia telah merenggut nyawa hingga minimal 39-juta jiwa. Itulah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang ditemukan oleh Dr Robert Gallo dan Dr Luc Montagnier pada 1983. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, hingga 2013 sebanyak 39-juta manusia menjumpai ajal akibat HIV/ AIDS, dan angkanya terus bertambah.

Jumlah itu separuh korban perang dunia kedua yang mencapai 60-juta-85-juta jiwa. “Kebanyakan korban adalah anggota keluarga yang tidak bersalah, tetapi tertukar oleh pasangan yang terinfeksi,” kata Meirinda Sebayang, manajer divisi Pelatihan dan Informasi Yayasan Spiritia di Jakarta Selatan, organisasi mayarakat yang memperjuangkan dukungan dan perawatan berkualitas bagi pasien HIV/AIDS.

Akar geranium

Berselang waktu 32 tahun ternyata tidak cukup bagi manusia untuk menyiapkan senjata ampuh yang mampu melumpuhkan virus asal primata besar itu. ARV alias terapi antiretroviral menjadi tindakan medis standar. “ARV memperlambat perbanyakan virus. Memang tidak menyembuhkan, tetapi meningkatkan kualitas hidup penderita dan memperpanjang kebersamaan dengan orang-orang tercintanya,” kata dr Prapti Utami, dokter di klinik Evergreen, Bintaro, kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Virus HIV dan penyakit AIDS tidak secara langsung membunuh penderitanya. Penyakit itu menggerogoti sistem imun sehingga tubuh pasien rentan terhadap serangan patogen. “Sekadar sariawan saja bisa menjadi luka lebar dalam rongga mulut,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang, itu. Virus influensa akibat cuaca tidak menentu tidak memicu radang tenggorokan atau penyakit saluran pernapasan akut. Biasanya penyakit sekunder itulah yang menyebabkan kematian penderita.

Dunia medis berlomba menemukan pengobatan untuk menghentikan HIV. Sayang, hasilnya masih jauh dari harapan. Ilmuan lantas melirik potensi bahan herbal, salah satunya geranium Pelargonium sidoides asal Afrika Selatan. Tanaman itu sejak lama sohor sebagai penghias pekarangan karena daun dan bunganya elok. Namun, kahsiat antivirus HIV terdapat dalam akar, seperti dibuktikan oleh Prof Dr Ruth Brack Werner dan kolega dari pusat Penelitian Kesehatan Lingkungan, Neuherberg, Jerman.

Ruth menggunkan akar geranium yang ia beli secara daring atau online. Ia lantas menumbuk akar kering menjadi serbuk. Pariset itu menambahkan air sehingga 10 gram serbuk akar itu berubah volumenya menjadi 50 ml. Ruth mengaduk selama 2 jam dalam suhu kamar, mengendapkan dengan sentrifugasi, lalu mengeringkan secara vakum.

Ingin meilhat semua jenis tanaman obat silahkan pergi ke : kebunbibit.id

Cabai Pelangi Pedas Asal Bolivia

Dak rumah Cauputra di lantai 3 penuh rak. Di atas rak seluas itu tumbuh jenis cabai beraneka warna. Sosok buah Copsium onnuum itu seronok berwarna wari: merah, kuning, jingga, cokelat, hingga ungu. Dengan berbagai bentuk dan ukuran. Sekadar contoh buah bolivian rainbow berbentuk kerucut dengan panjang 2 cm, warnanya berubah-ubah sesuai umur buah.

Ketika muda, buah cabai pelangi bolivia itu ungu, berubah menjadi kuning setelah agak besar, lalu jingga, dan merah ketika matang. Dalam sebuah tanaman lazim terdapat buah dengan umur berbeda. Oleh karena itu tanaman penuh cabai beraneka warna layaknya pelangi. Pantas namanya pun pelangi bolivia-merujuk asal cabai dari negara di Amerika Selatan itu.

Superpedas

Di balik penampilan cantik pelangi bolivia itu tersimpan rasa pedas. Kepedasan bolivian rainbow setara cabai rawit yaitu 50.000 SHU (scovile heat unit). Cauputra memperoleh pelangi bolivia dari Italia pada awal 2014. Setelah mendapatkan 1 paket benih ia kemudian menanamnya di dak rumahnya di Sunter, Jakarta Utara. Selain itu Cauputra juga memperoleh benih dark beppe dari Italia.

Seperti namanya, sosok tanaman unik karena batang tanaman berwarna hitam. Begitu juga daunnya, cenderung hijau gelap. Tanaman anggota famili Solanaceae itu rimbun. Bunga berwarna ungu yang muncul di ujung-ujung cabang sehingga buahnya sangat banyak dan menambah kesan unik. Buah cabai muda berwarna hitam, berbuah hijau, lalu merah saat matang.

Dark beppe matang erukuran sebesar korek api bisa menyamai pedasnya cabai rawit ukuran sedang. “Kalau mau mencoba yang ini boleh, tapi jangan terlalu banyak. Seujung kuku saja daripada nanti harus sering ke toilet,”kata Cauputra sembari menunjuk sebuah cabai omega. Buah cabai omega berbentuk seperti rawit, berwarna merah menyala sebesar ibu jari kaki orang dewasa.

Cauputra juga mengoleksi pimenta puma, pink tiger, dan trinidad scorpion sweet, Sosok tanaman pimenta puma berukuran sedang dan tidak terlalu rimbun. Saat matang bentuk buah menyerupai kurma, berwarna cokelat kehitaman, dan berbobot sekitar 4 gram. Sebanyak 3 irisan melintang tipis pimenta puma bisa membuat semagkuk soto tetap terasa pedas bahkan sampai beberapa saat setelah soto habis.

Hibrida

Adapun cabai harimau merah jambu berwarna ungu gelap, sepintas mirip pimenta puma. “Di Italia, pink tiger buahnya memanjang dengan warna kuning kombinasi ungu muda. Mungkin karena perbedaan iklim Indonesia dan Italia,” ujar pria 33 tahun itu. Menurut Alexander Lukas Sung, Pehobi cabai di Bekasi, Jawa Barat, cabai-cabai baru kebanyakan hibrida.

Hindarkan Cabe Anda dari Bahaya Virus Keriting

Keberhasilan budidaya tanaman cabe sangat ditentukan oleh kemampuan petani dalam mengendalikan hama atau penyakit yang menyerang tanaman, disamping juga oleh teknik budidaya yang dipilih.

Gejala penyakit yang hampir selalu muncul pada pertanaman cabe adalah daun atau pucuk keriting, baik melengkung ke atas maupun ke bawah kemudian dalam tingkat serangan yang parah akan menguning dengan tulang daun yang terlihat jelas. Gejala seperti ini dapat disebabkan oleh hama Mite (Tetranychus Sp), Aphis (Aphis Sp), dan Thrips (Thrips Sp) yang menjadi vektor bagi virus untuk menularkan penyakit keriting.

Gejala keriting yang disebabkan oleh mite, biasanya daun cabe akan melengkung ke bawah dimana bagian bawah daun berwarna agak kemerahan dan kaku. Mite yang menyerang cabe akan bersarang dan tinggal di bagian bawah daun, untuk program penyemprotan yang dilakukan harus mengarah pada bagian bawah daun. Akarisida yang dianjurkan untuk mengendalikan mite adalah Samite 135 yang berbahan aktif Pyridaben 135 g/liter dan bekerja sebagai racun kontak dan racun pernafasan.

Hama Aphis dan Thrips sebagai penyebab keriting pada cabe,tempat bersarang dan gejala yang ditimbulkan berbeda. Aphis atau sering disebut kutu persik bersarang di bawah daun dan gejala keriting yang ditimbulkan adalah melengkung ke bawah. Sedangkan Thrips tempat bersarangnya adalah pada bunga dan pucuk-pucuk daun muda. Bunga yang terserang Thrips akan keriting dan rontok, sedangkan daun yang terserang akan keriting menggulung ke atas.

Sebenarnya ada bahaya lain yang ditimbulkan oleh Aphis atau Thrips pada tanaman cabe yaitu adanya penularan penyakit virus, karena keduanya dapat berfungsi sebagai vektor pembawa virus penyebab keriting. Seperti kita ketahui, sampai saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh virus, sdangkan kerugian yang ditimbulkan dapat menurunkan produksi sampai 70% bahkan bisa rugi total apabila serangannya berawal saat tanaman masih kecil.

Program pengendalian penyakit virus keriting pada cabe paling baik adalah dilakukan sejak pemilihan bibit dan sesegera mungkin mengendalikan hama yang menjadi vektor virus. Pestisida yang dipilih harus bersifat sistemik agar mampu menjangkau Aphids yang bersembunyi di bawah daun dan Thrips yang bersarang di bagian bunga dan pucuk tanaman. Salah satu insektisida yang dianjurkan untuk mengendalikan Aphis dan Thrips pada tanaman cabe adalah Winder 25 dan Winder 100. Kedua isektisida ini berbahan aktif imidakloprid masing-masing 25 % dan 10 %, bersifat racun kontak dan racun lampung yang sistemik sehingga mampu melindungi tanaman yang baru tumbuh dan mampu membunuh hama meski yang tersembunyi. Cara aplikasinya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penyiraman pada lubang tanam dan penyemprotan pada seluruh bagian tanaman.

Agar Jambu Semanis Madu

Strategi memaniskan jambu madu di daertah bercurah hujan tinggi.

Embel-embel madu pada jambu madu deli hijau merujuk pada citrasa buah yang manis bak madu. Namun, buah jambu deli hijau di kebun Badri terasa hambar. Rasanya “dingin” dan berair. Daging bagian dalamnya mirip gambus. Ia menanam 40 pohon jambu di pot berdiameter 40 cm. Padahal, pertumbuhan jambu madu deli hijau itu relaif bagus, subur dan berbuah lebat.

Pekebun di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menggunakan media tanam campuran sekam mentah, pupk kandang kambing, dan tanah dengan perbandingan seimbang. Ia melarutkan 2 sendok pupuk mutiara NPK 16:16:16 lalu menyiramkan untuk 10 pohon yang diberikan 1 kali per bulan. Pada umur 6 bulan, jambu mulai berbunga dan berbuah, meski yang jadi buah hanya 1-2 buah. Sayang rasanya hambar.

Mendung

Menurut Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Ahmad Junaedi Msi, iklim mikro mempengarihi tingkat kemanisan jambu deli hijau. Suhu di Cikarawang cenderung sejuk karena acap kali mendung, Curah hujan 1.500 mm pada musim kemarau dan3.500 mm pada musim hujan. Akibatnya intensitas sinar matahari rendah sehingga fotosintesis berlangsung tak optimal. Semakin rendah intensitas sinar matahari yang diterima maka tanaman memerlukan proses fisiologi.

Hal serupa dikemukakan Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata MS, pakar buah di Bogor. Menurutnya, curah hijan di Bogor Tinggi sehingga berdampak pada intensitas sinar matahari rendah. Dampaknya proses perubahan karbohidrat menjadi gula dalam buah pun tak optimal. Itulah sebabnya buah jambu madu itu hambar. Kondisi iklim mikro itu kian diperparah oleh oleh media tanam yang lembab. Badri menggunakan media tanam terdiri dari sekam mentah, tanah, dan pupk kandang.

Kombinasi intensitas sinar matahari rendah dan media lembab itulah penyebab deli hijau rasanya hambar. Menurut pekebun jambu deli hijau di Binjai, Sumatera Utara, Sunardi, ukuran pot yang digunakan Badri terlalu kecil. Idealnya pekebun menggunakan pot berdiameter 60 cm. Sebab pot kecil menyebabkan akar sulit tumbuh dengan leluasa. Akibatnya pasokan hara pun terbatas sehingga proses metabolisme dalam tanaman pun terhambat.

Lulusan STM Jurusan Otomotif itu menanam jambu deli hijau asal binjai, Sumatera Utara. Petani itu mendapatkan bantuan 316 bibit dari Direktorat Jendral Hortikultura, Kementrian pertanian untuk ditanam di lahannya seluas . Pekebun berusia 40 tahun itu menanamnya di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Selain menanam di pot tanpa naungan, anak 3 ayah itu juga membudidayakan 80 pohon jambu madu di pot 40 cm.

Suhu Tinggi

Delapan puluh tabulampot jambu madu dalam screenhouse pernah merana. Pohon meranggas karena banyak daun berguguran. Menurut Badri pada musim kemarau suhu dalam screenhouse menjapai 37 derajat celsius. Bahkan screen dari nilon atau kenur yang menyerap panas diduganya jadi pemicu suhu di dalamnya sangat panas. Akibatnya sebagian daun layu, kering, lalu berguguran. Beragam serangga seperti belalang dan kepik leluasa berkeliaran. Bahkan seekor belalang sebesar kelingking tengah melahap daun hingga rusak parah.

“Pada kemarau lalu, petugas kepanasan sehingga tidak tahan berada di dalamnya,” ujar ketua kelompok tani Subur Makmur itu. Oleh karena itu tanaman hanya disiram 1 kali sehari, apalagi air harus dipikul dari kali kecil bejarak 70 m dari kebun. Menurut Suhardi cara budidaya itu berbeda dengan prosedur operasi standar. Pekebun idealnya menyiram 2-3 kali per hari terutama saat pembesaran buah pada kemarau untuk mengumbagi suhu panas dalam rumah kasa. Idealnya pekebun memasang jaringan irigasi agar lebih praktis. Jambu madu hasil budidaya di pot dan ditanam langsung di tanah tanpa naungan ternyata menghasilkan buah yang hambar pada panen perdana. Namun, pohon yang ditanam dalam naungan screehouse langsung menghasilkan buah manis. Bahkan, menurut ayah 3 anak itu, beberapa cabang sampai patah karena tidak kuat menopang buah.

Badri tidak menyeleksi buah. Semua buah dibiarkan hingga panen. Rasanya pun cukup manis dengan tingkat kemanisan 11 derajat briks. Bandingkan dengan tingkat kemanisan jambu deli hijau hasil budidaya pekebun di Binjai, berkisar 9-15 derajat briks. Menurut Ahmad junaedi buah hasil penanaman di dalam screenhouse lebih manis karena secara genetik jambu itu memang manisdan lingkungan tumbuh sesuai keinginannya.

Ahmad Junaedi mengatakan pekebun jambu madu di daerah bercurah hijan tinggi seperti Bogor tetap dapat menghasilkan buah manis. Syaratnya menghadirkan lingkungan mikro yaitu suhu di sekitar tanaman berkisar 34-36 derajat celcius. Pada kasus Badri , Akhmad Junaedi menyarankan agar buah ditanam dalam rumah kasa dan mengatur pupuk mikro dan mikro agar buah deli hijau tetap manis di daerah berketinggian 300 m di atas permukaan laut itu.